September 6, 2008
Soros, Kiyosaki, Setelah Itu ?
George Soros.
Sebelum 1997, orang Indonesia, bahkan yang berpendidikan dan punya wawasan luaspun tidak mengenalnya, apalagi mempelajari konsep-konsepnya. Setelah 1997, orang Indonesia mengenalnya sebagai biang keladi krisis moneter yang terjadi di Asia, dengan aksi spekulatifnya di pasar uang. Mantan perdana menteri Malaysia, Dr. Mahathir Muhammad, pernah mengecam Soros dengan tuduhan seperti di atas. Sedikit banyaknya, apa yang dilakukan Soros memang akhirnya mengguncang perekonomian negara-negara Asia, terutama yang pondasi ekonominya lemah.
Robert T. Kiyosaki.
Ini adalah satu tokoh yang tiba-tiba muncul sebagai mahaguru investasi, dengan bukunya yang terkenal : “Rich Dad Poor Dad”, dan buku-buku lanjutannya. Kiyosaki memodelkan pilihan-pilihan hidup ke dalam 4 kuadran, dilihat dari kacamata kebebasan finansial. Dengan berbagai motto “Biarkan uang bekerja untuk kita”, Kiyosaki berhasil menyihir banyak orang Indonesia, sehingga saat ini, tahun 2008, mata orang Indonesia menjadi melek investasi.
Saya melihat kedua tokoh ini agak berbeda. Aksi / ajaran kedua tokoh ini menjadi trigger keterpurukan bangsa Indonesia. Saya tidak menyalahkan kedua orang ini sebagai biang keladi keterpurukan bangsa Indonesia, namun kedua orang ini datang dalam keadaan bangsa Indonesia tidak siap mental. Pada akhirnya memang, yang menentukan nasib bangsa Indonesia, ya bangsa Indonesia itu sendiri. Tetapi pengaruh yang ditimbulkan oleh kedua orang ini sangat mengganggu proses kebangkitan bangsa ini.
Untuk Soros, saya melihat bahwa eksperimennya tentang “tiada satu sistem pun di dunia ini yang mempunyai legitimasi yang sah untuk dikatakan sebagai sistem yang paling tepat untuk diterapkan”, telah meluluhlantakkan sistem perekonomian dunia, terutama Asia, lebih khusus Asia Tenggara, lebih khusus lagi Indonesia. Dan dengan sistem perekonomian Indonesia yang ’stabil tapi semu’ pada saat itu, maka Indonesia merupakan negara yang paling lambat bangkit dibanding negara2 Asia Tenggara lain, seperti Thailand.
Aksi Soros mengakibatkan bangsa Indonesia mengalami berbagai hal berikut : PHK massal, nilai tukar Dollar menjadi tidak karuan, cenderung meningkat, industri-industri yang bergantung pada impor kelimpungan dan banyak yang bangkrut, harga-harga menjadi naik, dan seterusnya. Bangsa Indonesia dipaksa untuk mengambil kesetimbangan perekonomian baru, yang secara sederhana dapat diwakili oleh nilai tukar Dollar dari Rp. 2500 menjadi Rp. 9.000-an, bahkan sempat menembus Rp. 17.000,-, dan akhirnya mencapai kesetimbangan yang “benar” di nilai tukar Rp. 9.000-an.
Bangsa Indonesia yang mengalami kesulitan finansial, akhirnya mendapat ‘pencerahan’ dari seorang Jepang yang katanya tinggal di Hawaii bernama Robert T. Kiyosaki, dengan bukunya “Rich Dad Poor Dad” yang mengajarkan cara mencapai kebebasan finansial, meskipun setelah baca semua bukunya, saya cuman dapat menyimpulkan bahwa ajaran sebenarnya adalah “jadilah anggota Multi Level Marketing”.Tetapi singkat kata, karya-karyanya begitu booming sehingga bangsa Indonesia mulai belajar bagaimana berinvestasi. Mulai dari investasi bersifat produksi, sampai pada investasi bersifat distribusi. Maksudnya investasi bersifat produksi adalah : ada barang/jasa yang dihasilkan di situ, sedangkan investasi bersifat distribusi saya arahkan ke sistem distributor, termasuk MLM (yang memang menjual barang). Saya masukkan model investasi yang “agak aneh” seperti main saham, valas, money game, pyramid schema sebagai sistem investasi aji mumpung ( kerjaannya hanya mainan uang saja) .
Perubahan besar terjadi di Indonesia : semua orang mulai mewujudkan ide-ide bisnisnya dalam kerangka investasi ajaran Kiyosaki : berusaha berbuat bagaimana caranya agar uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang.
Dalam implementasi di investasi yang bersifat produksi dan distribusi, ajaran Kiyosaki mengakibatkan satu hal positif : mulai banyak usaha-usaha baru, terutama di level Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Tetapi di implementasi untuk investasi aji mumpung, agak brutal : model arisan berantai, money game, dan lain-lain mulai menggejala, dan akhirnya jadi seperti “iseng-iseng berhadiah, hitung-hitung dapat uang tanpa usaha”.
Nah, di sini ajaran Kiyosaki mulai mendapatkan implentasi yang salah menurut saya. Dunia UKM memang berkembang, tetapi lebih berkembang lagi dunia investasi X yang sifatnya aji mumpung, yang hanya setor yang berapa, dapatnya 10 kali lipat misalnya, karena adanya sistem jaringan. Apalagi dengan adanya kenaikan harga minyak / BBM, gas, dan bahan-bahan baku, UKM pun semakin sulit berkembang. Orang-orang akhirnya lari ke sistem investasi aji mumpung. Terbuai dengan janji-janji akan mendapat gain puluhan kali lipat dengan usaha yang seper-puluhan kali lipat dari usaha normal.
Satu hal yang mengerikan adalah : banyak orang tidak sadar bahwa dalam cerita Kiyosaki itu, di awal dia sengsara dulu baru bisa mencapai apa yang diinginkan. Gagal dulu berkali-kali baru berhasil. Kalau gagal dipelajari kenapa bisa gagal. Kiyosaki tidak pernah menyarankan aji mumpung ! Tetapi saya tidak habis pikir kenapa ajarannya akhirnya diimplementasikan ke dalam model investasi aji mumpung. Dan banyak orang akhirnya memilih untuk menghindari kerja sengsara. Lebih memilih untuk cut off dengan berusaha untuk kaya secepat mungkin.
Nah, kalau sudah begini, keterpurukan bangsa ini bukan lagi di perekonomian, tetapi juga di mentalitas kerja. Tidak mau mulai dari bawah. Maunya langsung jadi manajer, bahkan pemilik usaha, sebuah level tertinggi dalam ajaran Kiyosaki, di mana kondisi “uang bekerja untuk kita” menjadi ideal di sini.
Sebagai kesimpulan saya : George Soros tidak terlalu lama menyengsarakan Indonesia. Dia hanya sekali bereksperimen. Tetapi dampaknya kepada masyarakat Indonesia sangat besar dalam waktu singkat. Kiyosaki masuk dengan ajarannya yang seakan-akan menjadi ’solusi jitu’ bagi bangsa yang terpuruk ekonominya ini. Dan karena penyikapan yang tidak terkendali dari bangsa Indonesia sendiri, akhirnya ajarannya secara perlahan-lahan menjadi kontraproduktif, terutama di mentalitas kerja.
Nah, apalagi / siapa lagi yang akan “berkontribusi” dalam membuat bangsa Ini terpuruk ? Bangsa ini sangat potensial mengalami keterpurukan lagi, karena mentalitas kerja sudah mengarah ke ” bagaimana supaya cepat kaya, pensiun muda, uang bekerja untuk kita, dll”.

Comments(1)







