anugrahkusuma.com

…ketika tangan mulai gatel mencet-mencet keypad…

Senin, 8 September 2008…

Hari ini hari Senin. Setelah mengalami 2 hari masa-masa homesick, akhirnya semangat kembali. Datang di lab jam 7.15 (biasanya orang-orang pada datang jam 9.00)… setting notebook (maklum, komputer baru disupply lagi akhir bulan), nyalain lampu belajar, ambil kopi di Mesin Dono ( sebutan kami warga Indonesia untuk vending machine, nanti di artikel lain saya ceritakan kenapa kami menyebutnya demikian ), dan jadilah seperti ini :

Selamat pagi !

NB : Maaf pak Budi Rahardjo , saya tiru sedikit style Anda menulis blog :) Peace !

Soros, Kiyosaki, Setelah Itu ?

George Soros.
Sebelum 1997, orang Indonesia, bahkan yang berpendidikan dan punya wawasan luaspun tidak mengenalnya, apalagi mempelajari konsep-konsepnya. Setelah 1997, orang Indonesia mengenalnya sebagai biang keladi krisis moneter yang terjadi di Asia, dengan aksi spekulatifnya di pasar uang. Mantan perdana menteri Malaysia, Dr. Mahathir Muhammad, pernah mengecam Soros dengan tuduhan seperti di atas. Sedikit banyaknya, apa yang dilakukan Soros memang akhirnya mengguncang perekonomian negara-negara Asia, terutama yang pondasi ekonominya lemah.

Robert T. Kiyosaki.
Ini adalah satu tokoh yang tiba-tiba muncul sebagai mahaguru investasi, dengan bukunya yang terkenal : “Rich Dad Poor Dad”, dan buku-buku lanjutannya. Kiyosaki memodelkan pilihan-pilihan hidup ke dalam 4 kuadran, dilihat dari kacamata kebebasan finansial. Dengan berbagai motto “Biarkan uang bekerja untuk kita”, Kiyosaki berhasil menyihir banyak orang Indonesia, sehingga saat ini, tahun 2008, mata orang Indonesia menjadi melek investasi.

Saya melihat kedua tokoh ini agak berbeda. Aksi / ajaran kedua tokoh ini menjadi trigger keterpurukan bangsa Indonesia. Saya tidak menyalahkan kedua orang ini sebagai biang keladi keterpurukan bangsa Indonesia, namun kedua orang ini datang dalam keadaan bangsa Indonesia tidak siap mental. Pada akhirnya memang, yang menentukan nasib bangsa Indonesia, ya bangsa Indonesia itu sendiri. Tetapi pengaruh yang ditimbulkan oleh kedua orang ini sangat mengganggu proses kebangkitan bangsa ini.

Untuk Soros, saya melihat bahwa eksperimennya tentang “tiada satu sistem pun di dunia ini yang mempunyai legitimasi yang sah untuk dikatakan sebagai sistem yang paling tepat untuk diterapkan”, telah meluluhlantakkan sistem perekonomian dunia, terutama Asia, lebih khusus Asia Tenggara, lebih khusus lagi Indonesia. Dan dengan sistem perekonomian Indonesia yang ’stabil tapi semu’ pada saat itu, maka Indonesia merupakan negara yang paling lambat bangkit dibanding negara2 Asia Tenggara lain, seperti Thailand.

Aksi Soros mengakibatkan bangsa Indonesia mengalami berbagai hal berikut : PHK massal, nilai tukar Dollar menjadi tidak karuan, cenderung meningkat, industri-industri yang bergantung pada impor kelimpungan dan banyak yang bangkrut, harga-harga menjadi naik, dan seterusnya. Bangsa Indonesia dipaksa untuk mengambil kesetimbangan perekonomian baru, yang secara sederhana dapat diwakili oleh nilai tukar Dollar dari Rp. 2500 menjadi Rp. 9.000-an, bahkan sempat menembus Rp. 17.000,-, dan akhirnya mencapai kesetimbangan yang “benar” di nilai tukar Rp. 9.000-an.

Bangsa Indonesia yang mengalami kesulitan finansial, akhirnya mendapat ‘pencerahan’ dari seorang Jepang yang katanya tinggal di Hawaii bernama Robert T. Kiyosaki, dengan bukunya “Rich Dad Poor Dad” yang mengajarkan cara mencapai kebebasan finansial, meskipun setelah baca semua bukunya, saya cuman dapat menyimpulkan bahwa ajaran sebenarnya adalah “jadilah anggota Multi Level Marketing”.Tetapi singkat kata, karya-karyanya begitu booming sehingga bangsa Indonesia mulai belajar bagaimana berinvestasi.  Mulai dari investasi bersifat produksi, sampai pada investasi bersifat distribusi. Maksudnya investasi bersifat produksi adalah : ada barang/jasa yang dihasilkan di situ, sedangkan investasi bersifat distribusi saya arahkan ke sistem distributor, termasuk MLM (yang memang menjual barang). Saya masukkan model investasi yang “agak aneh” seperti main saham, valas,  money game, pyramid schema sebagai sistem investasi aji mumpung ( kerjaannya hanya mainan uang saja) .

Perubahan besar terjadi di Indonesia : semua orang mulai mewujudkan ide-ide bisnisnya dalam kerangka investasi ajaran Kiyosaki : berusaha berbuat bagaimana caranya agar uang yang bekerja untuk kita, bukan kita yang bekerja untuk uang.

Dalam implementasi di investasi yang bersifat  produksi dan distribusi, ajaran Kiyosaki mengakibatkan satu hal positif : mulai banyak usaha-usaha baru, terutama di level Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Tetapi di implementasi untuk investasi aji mumpung, agak brutal : model arisan berantai, money game, dan lain-lain mulai menggejala, dan akhirnya jadi seperti “iseng-iseng berhadiah, hitung-hitung dapat uang tanpa usaha”.

Nah, di sini ajaran Kiyosaki mulai mendapatkan implentasi yang salah menurut saya. Dunia UKM memang berkembang, tetapi lebih berkembang lagi dunia investasi X yang sifatnya aji mumpung, yang hanya setor yang berapa, dapatnya 10 kali lipat misalnya, karena adanya sistem jaringan. Apalagi dengan adanya kenaikan harga minyak / BBM, gas, dan bahan-bahan baku, UKM pun semakin sulit berkembang. Orang-orang akhirnya lari ke sistem investasi aji mumpung. Terbuai dengan janji-janji akan mendapat gain puluhan kali lipat dengan usaha yang seper-puluhan kali lipat dari usaha normal.

Satu hal yang mengerikan adalah : banyak orang tidak sadar bahwa dalam cerita Kiyosaki itu, di awal dia sengsara dulu baru bisa mencapai apa yang diinginkan. Gagal dulu berkali-kali baru berhasil. Kalau gagal dipelajari kenapa bisa gagal. Kiyosaki tidak pernah menyarankan aji mumpung ! Tetapi saya tidak habis pikir kenapa ajarannya akhirnya diimplementasikan ke dalam model investasi aji mumpung. Dan banyak orang akhirnya memilih untuk menghindari kerja sengsara. Lebih memilih untuk cut off dengan berusaha untuk kaya secepat mungkin.

Nah, kalau sudah begini, keterpurukan bangsa ini bukan lagi di perekonomian, tetapi juga di mentalitas kerja. Tidak mau mulai dari bawah. Maunya langsung jadi manajer, bahkan pemilik usaha, sebuah level tertinggi dalam ajaran Kiyosaki, di mana kondisi “uang bekerja untuk kita” menjadi ideal di sini.

Sebagai kesimpulan saya : George Soros tidak terlalu lama menyengsarakan Indonesia. Dia hanya sekali bereksperimen. Tetapi dampaknya kepada masyarakat Indonesia sangat besar dalam waktu singkat. Kiyosaki masuk dengan ajarannya yang seakan-akan menjadi ’solusi jitu’ bagi bangsa yang terpuruk ekonominya ini. Dan karena penyikapan yang tidak terkendali dari bangsa Indonesia sendiri, akhirnya ajarannya secara perlahan-lahan menjadi kontraproduktif, terutama di mentalitas kerja.

Nah, apalagi / siapa lagi yang akan “berkontribusi” dalam membuat bangsa Ini terpuruk ? Bangsa ini sangat potensial mengalami keterpurukan lagi, karena mentalitas kerja sudah mengarah ke ” bagaimana supaya cepat kaya, pensiun muda, uang bekerja untuk kita, dll”.

Menteri Negara Urusan Peranan Waria

Mungkin ke depan kalau jumlah waria cukup signifikan, akan dibuatkan Kementrian Negara Urusan Peranan Waria.

Di kitab agama manapun tidak pernah disebutkan jenis kelamin waria. Dan secara biologis pun manusia itu ya jenis kelaminnya cuman 2 pilihan : ya lelaki, ya perempuan. Gak ada itu waria.

Waria, menurut hemat saya, adalah satu kelainan psikologis. Secara biologis kita harus menganggap dia lelaki. Yang membuatnya menjadi kecewek-cewekan sebenarnya adalah faktor psikologis. Dan itu pasti berasal dari lingkungannya.

Tetapi yang saya tidak habis mengerti adalah : kenapa saat ini di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara maju dengan jargon HAM-nya, menganggap warianisme adalah sebuah kewajaran ?? Kenapa tidak dianggap sebagai penyakit psikologis yang mestinya ditangani secara medis ??

Saya tidak mempermasalahkan orang yang terlanjur menjadi waria. Tetapi saya lebih mempermasalahkan penyikapan otoritas pemerintahan di berbagai negara tentang waria yang lebih menjurus ke arah ‘pewajaran’. Dan saya tidak menyalahkan juga orang-orang, terutama di Indonesia, yang agak-agak jijik melihat waria. Karena memang tidak wajar. Tetapi juga tidak perlu memusuhi mereka. Mereka juga punya hak hidup kok. Jadi jangan dimusuhi.

Kita sering dibuat ambigu dengan konsep-konsep peranan gender, yang di zaman modern ini lebih memberikan ruang gerak bebas kepada kaum wanita untuk dapat melakukan hal-hal yang dulu hanya dilakukan oleh para pria. Tetapi konsep peranan gender modern ini ketika diterapkan kepada waria, akhirnya mempersulit kita untuk menganggap warianisme sebagai satu bentuk penyakit psikologis. Misalnya : “emang apa salahnya sih cowok berperilaku seperti cewek ?” Atau “Emang apa salahnya cowok berdandan seperti cewek ? kan cewek juga banyak yang berdandan seperti cowok, gak dipermasalahkan tuh ! “. Akhirnya waria pun dianggap sebagai satu bentuk kewajaran. Yang penting tidak menganggu, itu saja batasannya.

Yah, waria memang sering menimbulkan polemik, terutama ketika kita berbenturan dengan nilai-nilai agama. Dalam konsep agama Islam misalnya, akhirnya bisa timbul pertanyaan : bisakah waria menjadi imam sholat ? Mengingat dia kan lelaki. Tapi tidak tahu, mungkin ada konsep yang bisa melarang waria menjadi imam sholat ? Kalau ada yang tahu, tolong saya dikasih tau ya. Dalam konsep katolik mungkin masih bisa dijawab tegas “Tidak”, kalau ada pertanyaan : bolehkah waria menjadi pastor ?  dan sebagainya.

Mengenai peranan sosial waria di masyarakat, saya pikir perlu diberikan kesempatan berkarya. Tetapi perlu ketegasan juga apakah warianisme ini harus dianggap penyakit psikologis atau bukan. Ya sekali lagi itu peranan pemerintah. Harus tegas dalam mengambil keputusan.

Tetapi kalau saya pribadi berpendapat : warianisme harus dianggap sebagai satu penyakit psikologis yang harus disembuhkan ! Tidak ada masalah dengan pemberian kesempatan berkarya buat mereka, tetapi ada masalah dengan psikologis mereka. Jadi harus disembuhkan ! Dan dengan begini, saya berharap jumlah waria tidak semakin banyak, sehingga pemerintah malah membuat satu pos kementrian urusan peranan waria….

Negara Agamis kok Korup ?

Kemarin saya sempat melihat satu blog di blogdetik.com yang mempertanyakan : “Kenapa bangsa Indonesia yang sholatnya saja tidak pernah lupa, malah menjadi bangsa yang korupsinya ampun-ampunan ?”

Kalau saya menjawabnya mudah saja : Karena bangsa Indonesia masih beragama secara ritual. Logikanya masih : kalau saya melakukan ritual A, B, C, dst makan saya akan masuk surga. Dan batasan definisi “ritual” dalam pikiran banyak orang di Indonesia adalah aktivitas-aktivitas fisik yang “heboh”. Saya ambilkan contoh  : pergi ke rumah ibadah. Ini adalah aktivitas yang “heboh”, karena tidak setiap waktu kita pergi ke rumah ibadah. Pergi ke rumah ibadah juga sebenarnya bukan aktivitas yang ‘natural dari instink manusia yang paling primitif’. Maksudnya insting manusia yang paling primitif adalah “makan, minum, dan seks” dan aktivitas fisik lain yang mendukung ketiga aktivitas tersebut secara langsung.

Contoh lain dari aktivitas “heboh” ini adalah melakukan kewajiban-kewajiban agama, seperti sholat (Islam), ziarah ke Gua Maria (katolik), dll, termasuk juga merayakan hari besar keagamaan.

Kebanyakan masyarakat masih menempatkan agama pada aktivitas-aktivitas heboh, tetapi tidak sampai pada aktivitas-aktivitas instingtif yang primitif. Bisa kita lihat dalam kasus-kasus korupsi, nilai-nilai agama tidak diterapkan pada aktivitas mencari uang ( yang mana merupakan aktivitas fisik yang mendukung terpenuhinya insting makan dan minum).  Kasus-kasus skandal seks juga demikian. Para pelaku korupsi dan skandal seks ini mungkin saja melakukan ritual keagamaan setiap hari, tetapi itu hanya selesai sampai kepada area ritual, tidak sampai mendalaminya ke area insting primitif.

Lalu apa yang salah dari negara yang penduduknya beragama ini ?

1. Salah analisis. Negara ini mengira penduduknya beragama, padahal kalau mau diteliti lagi sampai ke implementasi agama, mayoritas penduduk negara ini sebenarnya secara tidak sadar : atheis.
2. Akibat salah analisis, terjadilah banyak salah kaprah : banyak orang yang mengira hanya dengan menjalankan ritual saja, mereka masuk surga / nirwana / reinkarnasi menjadi mahluk yang lebih baik. Agama tidak pernah menjadi alat kontrol sampai ke  insting primitif. Akhirnya, korupsi pun menjadi hal yang biasa, karena agama tidak pernah disentuhkan ke area pekerjaan.

Nah, apa yang harus dilakukan agar negara agamis ini tidak korupsi ?

1. Jelas pemerintah harus take the action first. Hukuman mati untuk koruptor ? Kenapa tidak ? Itu merupakan shock therapy. Tetapi ke depan bisa saja hukuman mati ini dihapuskan, asal masyarakat Indonesia sudah bisa malu untuk korupsi. Hukuman mati harus dipandang sebagai langkah awal untuk memperbaiki budaya. Kalau budaya masyarakat sudah tidak korupsi lagi, buat apa hukuman mati, kan ? Hukuman mati ini juga bisa menjadi alat penekan masyarakat supaya kembali ke nilai-nilai agama, dan lebih menerapkan agama di area insting primitif.
2. Pemuka agama harus lebih ‘membumi’. Tidak duduk di kursi-kursi elit melulu. Tidak ngurusin politik melulu. Umatnya lebih membutuhkan kontrol dan konsultasi secara agama, bukan kekuasaan yang sifatnya eksklusif golongan / kelompok. Kalau mau disurvey, banyak lho orang-orang yang butuh konsultasi agama, soalnya hidup makin berat, stress makin banyak, orang gila pun bertambah.

Bahasa Menunjukkan Eksistensi

Satu hal yang saya pikir agak tidak menyenangkan setelah seminggu ini berada di Korea adalah masalah bahasa. Ya wajar, saya belum pernah belajar bahasa Korea. Tetapi ada yang lebih daripada itu. Masyarakat Korea adalah masyarakat dengan kemampuan bahasa Inggris yang memprihatinkan, sehingga untuk membeli sesuatu saja, saya harus ke toko2 yang harga barangnya sudah dilabeli, jadi tidak bisa ditawar, hehe…

Selain itu juga di Korea ini saya merasa seperti orang buta huruf. Maklum, semua papan nama, pengumuman, spanduk, dll ditulis dalam aksara Hangul. Karena kelas bahasa Korea saya baru mulai minggu depan, terpaksa saya tidak dapat membaca tulisan-tulisan tersebut, hicks :(

Saya jadi berpikir, kenapa ya orang Korea tidak ‘memaksakan diri’ belajar bahasa Inggris ? Apakah mereka bisa hidup hanya dengan bermodalkan bahasa Korea ?

Saya jadi teringat bahwa Korea memiliki industri-industri yang berkualitas eksport, seperti industri mobil (Daewoo, KIA, Hyundai), atau telepon seluler (Samsung), peralatan elektronik (Samsung, LG), dll. Semuanya dapat kita jumpai di Indonesia. Pabrik-pabrik dan pusat risetnya pun mereka bangun di dalam negeri (meskipun untuk pabrik mereka juga bikin di luar negeri mungkin ). Tetapi di sini yang jelas adalah satu : mereka, seperti halnya negara2 maju lain bisa membuat dunia berkata “dunia butuh Korea”, sehingga orang Korea bisa berkata “butuh kami ? berkomunikasilah dengan bahasa kami”. Paling tidak, untuk batasan2 di dalam negeri Korea, hal itu terasa sekali. Anda mau dapat lebih leluasa bergerak di korea ini, ya belajarlah bahasa Korea dan huruf Hangul-nya sekaligus.

Penguasaan teknologi dan keberhasilan membuat komoditi yang berkualitas ekspor telah membuat bahasa Korea lebih terjamin eksistensinya. Jadi bahasa Korea tidak eksis dengan paksaan-paksaan “gunakanlah bahasa Korea”, atau “pakailah bahasa Korea yang baik dan benar”. Semuanya itu berjalan secara natural. Saya menilai, bahasa Korea (dan juga bahasa Jerman atau Jepang ), adalah bahasa yang eksis karena pemiliknya berhasil menguasai sektor-sektor vital yang dibutuhkan dunia. Dalam hal ini keberhasilan mengembangkan teknologi dan menggalakkan industri sampai ke level “maju, canggih, dan sulit dikejar negara lain”.

Saya tidak tahu, seandainya kita ingin bahasa Indonesia eksis di dunia internasional, adakah cara lain selain dengan “memaksa penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar” ? Harusnya kita, bangsa Indonesia mulai berpikir ke depan bagaimana mempertahankan bahasa Indonesia di kemudian hari. Sebenarnya sudah banyak kuliah-kuliah sastra Indonesia bertebaran di dunia, termasuk di Korea ini. Saya pikir itu sangat baik, hanya saja dari Indonesianya sendiri harus memiliki sektor-sektor di mana bahasa Indonesia dapat lebih terjamin lagi eksistensinya. Misalnya pariwisata. Saya kira pariwisata merupakan sektor yang harus dengan serius dibenahi Pemerintah. Bukan hanya sekedar pertimbangan devisa, melainkan juga ada misi yang lain : mempertahankan eksistensi Bahasa Indonesia, supaya di kemudian hari anak cucu kita tidak menjadi ‘bule di negara sendiri’…..

Download di Sabtu Pagi

Ketika download di Sabtu pagi…..

Hehehehe…..

Telepon Umum

Satu hal yang saya agak surprised dengan Korea adalah : masih banyak tersebar telepon-telepon umum di pinggir jalan, di pusat-pusat keramaian, di antara gedung-gedung lab. Kenapa surprised ? Karena telepon-telepon umum itu masih eksis. Tidak ada yang ngambil gagangnya, atau ngambil box teleponnya, atau ngutil duit recehannya, seperti yang terjadi di Indonesia.

Ini mengerikan !

Korea bisa maju sampai sekarang ini (anggap saja dihitung dari selesainya perang Korea 1953)  ternyata juga dibarengi dengan kedisiplinan warganya. Ini yang saya katakan mengerikan. Karena jika Indonesia mau maju juga dengan mengikuti apa yang telah dicapai Korea, satu yang saya pikir sangat sulit adalah membuat masyarakatnya berdisiplin memelihara fasilitas umumnya : telepon umum, halte bis, dll.

Membuat seorang manusia menjadi manusia yang disiplin dan bertanggungjawab sulitnya bukan main. Apalagi mengubah mayoritas warga negara Indonesia menjadi lebih berdisiplin dan bertanggung jawab ! Korea butuh waktu 55 tahun untuk itu. Saya juga nggak kepikir sampai sekarang gimana caranya. Karena perasaan, sudah berbagai cara dilakukan untuk lebih mendisiplinkan warga, tetapi rumus di Indonesia sepertinya adalah : “Peraturan dibuat untuk dilanggar“. Jadi kapan Indonesia mau maju ? Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang ! Eh, rumput yang mana ? lapangannya kan udah jadi mall ….

Harga-harga di Korea

Berikut adalah daftar harga barang-barang di Korea yang sempat terpantau / hasil obrolan :

1. Beras 10 kg = 24.000 won
2. Sejenis Aqua botol kecil ( agak lupa berapa liter, pake bahasa korea ) = 600 won
3. Roti merk “Pattise” ( satu set isinya 7 ) = 1200 won
4. Rata-rata makan di tempat makan ala mahasiswa ( di luar kampus PNU ) = 3000 - 5000 won
5. Kalau makan di kantin PNU, harga sekitar 1500 - 2500 won
6. Harga kopi (beli di mesin yang otomatis ) = 200 won
7. Pocari Sweat = 700 won
8. Rata-rata biaya sewa rumah = 200.000 won/bulan
9. Biaya deposit sewa rumah = 1.000.000 - 3.000.000 won ( deposit sewa rumah, maksudnya adalah kalau kita mau sewa rumah, di depan kita ngasih jaminan ke yang punya rumah. Nanti kalau kita udah ga nyewa lagi, duitnya dikembalikan )

catatan : 1 won saat ini sekitar 9,75 rupiah.

Foto2 Pertamaku di Korea

Inilah foto2 pertama yang kubuat di Korea. Pemotretan dilakukan dalam perjalanan dari Bandara Incheon menuju Busan. Hanya saja Busannya sendiri belum aku potret, hehehe….

Jalur Bus Bandara Incheon

Jalur Bus Bandara Incheon

Bagian dalamnya Incheon

Bagian dalamnya Incheon

Salah satu bus antar provinsi

Salah satu bus antar provinsi

Pemandangan di Seoul

Pemandangan di Seoul

Tempat Peristirahatan di Geumgang River

Tempat Peristirahatan di Geumgang River

Masih Tempat Peristirahatan di Geumgang River

Masih Tempat Peristirahatan di Geumgang River

Ini sungainya ( Geumgang River )

Ini sungainya ( Geumgang River )

Ini juga sungainya (Geumgang River)

Ini juga sungainya (Geumgang River)

Welcome to Korea !

Kata-kata di atas diucapkan pertama kali oleh penumpang Korean Airline di sebelah saya begitu pesawatku sampai di Bandara Internasional Incheon, Korea. Perjalanan yang panjang, melelahkan, dan untungnya, banyak info tentang korea yang saya dapat dari penumpang di sebelah saya. Meskipun kami sempat berkenalan, tetapi sekarang saya lupa namanya. Maklum, agak sulit mengingat nama Korea untuk orang yang baru pertama kali sampai di Korea seperti saya.

Dari Incheon, saya melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Busan. Lama perjalanan sekitar 5 jam lebih beberapa menit. Sempat singgah 30 menit di Geumgong River, sebuah sungai yang terletak di sebuah lembah yang saya sendiri tidak tahu namanya. Tetapi sungai ini begitu indah. Sebenarnya saya sempat mengambil beberapa gambar di sana, hanya saja saya belum sempat upload di blog. Nanti dalam waktu2 mendatang akan saya tampilkan.

Pengalaman pertama tentang Korea akan saya upload next time. Sekarang sibuk mempersiapkan diri untuk kerjaan riset ke depan.

Next Page »

AJAXed with AWP